Powered By Blogger

Senin, 07 Juli 2014

PENILAIAN AUTENTIK PADA PROSES DAN HASIL BELAJAR



PENILAIAN AUTENTIK PADA PROSES DAN HASIL BELAJAR

A.     Definsi dan Makna Asesmen Autentik
Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari  asli, nyata, valid, atau reliabel. Dalam kehidupan akademik keseharian, frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. Akan tetapi, frasa pengukuran atau pengujian autentik, tidak lazim digunakan.
Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan  dibandingkan dengan  tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik, berikut ini dikemukakan beberapa definisi. Dalam American Librabry Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran.  
Dalam Newton Public School, asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik.  Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran, seperti meneliti, menulis, merevisi dan membahas artikel, memberikan analisa oral terhadap peristiwa, berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat, dan sebagainya.  

B. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013
Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena, asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Karenanya, asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai.
Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja, portofolio, dan penilaian proyek.  Asesmen autentik adakalanya disebut  penilaian responsif, suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus, mulai dari mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang jenius. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran.
Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma, pilihan ganda,  benar–salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran, karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan  peserta didik. Dalam asesmen autentik, seringkali pelibatan siswa sangat penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai.
Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan.
Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan.

C.        Asesmen Autentik dan Belajar Autentik
Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik, yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja, kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu, simulasi dan bermain peran, portofolio, memilih kegiatan yang strategis, serta memamerkan dan menampilkan sesuatu.
Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. Pertama, pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Kedua, penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. Ketiga, analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap, keteampilan, dan pengetahuan yang ada.
Dengan demikian, asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir, meski dengan satuan waktu yang berbeda. Konstruksi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka.
Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik, memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. Di sini,  guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel, dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis, menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
Sejalan dengan deskripsi di atas, pada pembelajaran autentik, guru harus menjadi “guru autentik.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran, melainkan juga pada penilaian. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik, guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini.
1.    Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran.
2.    Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan.
3.    Menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik.
4.    Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah.
Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi, seperti tes pilihan ganda, benar/salah, menjodohkan, dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Tes semacam ini telah  gagal memperoleh gambaran yang utuh mengenai sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat.
Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum, karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum, tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar, dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu; ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. Memang, pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. Namun demikian, sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik, sekolah, dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik.
Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas  implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif, kuanitatif, maupun kuantitatif. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik, misalnya, mengenai keunggulan dan kelemahan, motivasi, keberanian berpendapat, dan sebagainya. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir, mahir, sebagian mahir, dan tidak mahir). Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik, seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional.

D.     Jenis-jenis Asesmen Autentik
Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami secara jelas  tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu, guru harus bertanya pada diri sendiri, khususnya berkaitan dengan: (1) sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang akan dinilai; (2) fokus penilaian akan dilakukan, misalnya, berkaitan dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan; dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai, seperti  penalaran, memori, atau proses. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini.

1.         Penilaian Kinerja
Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja:
a.      Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
b.      Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Dari laporan tersebut, guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan.
c.      Skala penilaian (rating scale). Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. Misalnya: 5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, 1 = kurang sekali.
d.      Memori atau ingatan (memory approach). Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Cara seperti tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup dianjurkan.
Penilaian  kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. Pertama, langkah-langkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. Kedua, ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. Ketiga, kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Keempat, fokus utama dari kinerja yang akan dinilai, khususnya indikator esensial yang akan diamati. Kelima, urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati.
Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk  menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik, dari aspek keterampilan berbicara, misalnya,  guru dapat mengobservasinya pada konteks yang, seperti berpidato, berdiskusi, bercerita, dan wawancara. Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen, seperti penilaian sikap, observasi perilaku, pertanyaan langsung, atau pertanyaan pribadi.
Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status,  proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.
●     Penilaian ranah sikap. Misalnya, peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
●     Penilaian ranah keterampilan. Misalnya,  peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
●     Penilaian ranah pengetahuan.  Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. Pertama, menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Kedua, peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Ketiga, mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik  berperilaku jujur. Keempat, menumbuhkan semangat untuk maju secara personal.
2.    Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan demikian, penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain.
Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Karena itu, pada setiap penilaian proyek, setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru.
a.     Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
b.     Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
c.     Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
Penilaian proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, dan produk proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis.
Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik.  Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk, seperti makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain), barang-barang terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik, dan karya logam. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria  yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan.

3.    Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai), atau informasi lain yang releban dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. Penilaian terutama dilakukan oleh guru, meski dapat juga oleh peserta didik sendiri.
Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/ literatur, laporan penelitian, sinopsis, dan lain-lain. Atas dasar penilaian itu, guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
a.      Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
b.      Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
c.      Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
d.      Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
e.      Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
f.       Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
g.      Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.

4.    Penilaian Tertulis
Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya, penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. Memilih jawaban terdiri dari   pilihan ganda, pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi,  jawaban singkat atau pendek, dan  uraian.
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.
Pada tes tertulis berbentuk esai, peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya, namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. Misalnya, peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja, rendahnya keterampilan, atau kelangkaan sumberdaya alam. Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda, namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama, asalkan analisisnya benar. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban, yaitu jawaban terbuka (extended-response) atau jawaban terbatas (restricted-response). Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks.


Rabu, 02 April 2014

Instal windows 7

Cara instal windows 7
silahkan link:
http://indowhiz.blogspot.com/2013/10/12-cara-mengatasi-windows-membeku.html

Minggu, 16 Februari 2014

Silabus Kurikulum 2013

Anda butuh Silabus Kurikurulum 2013
silahkan link :
http://widyaprima.psmk.net/html/index.php?id=artikel&kode=7

Senin, 07 Oktober 2013

Kamis, 02 Mei 2013

Sekolah Kasih

Surat Gembala
Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2013
dibacakan pada Sabtu-Minggu, 27 – 28 April 2013,
Minggu Paska V
SEKOLAH KATOLIK
MENJADI SEKOLAH KASIH

“Kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu
saling mengasihi” (Yoh 13:35)

Hari Pendidikan Nasional dalam terang Sabda Tuhan
Saudari-saudaraku terkasih,
Pelopor pendidikan, Ki Hajar Dewantara lahir di Jogyakarta 2 Mei 1889. Tanggal kelahirannya, 2 Mei, dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno pada 28 November 1959. Marilah kita jadikan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2013 kesempatan bagi kita untuk bersyukur kepada Tuhan atas partisipasi Gereja dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia (bdk. Pembukaan UUD 1945 alinea 4). Kepada kita Tuhan Yesus, Sang Guru sejati, menyampaikan perintah baru: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian juga kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13: 34-35). Dalam terang sabda Tuhan itu, marilah kita menyadari tanggungjawab Lembaga Pendidikan Katolik untuk menyelenggarakan “Sekolah Kasih” bagi para peserta didik.
Pendidikan tentu bukan hanya urusan sekolah, namun menjadi tanggungjawab orang tua dan Gereja secara bersama-sama. Masing-masing perlu menjalankan perannya dengan kerjasama yang sinergis. Dengan demikian Lembaga Pendidikan Katolik menjadi “Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul dan Lebih Berpihak kepada yang Miskin” sebagaimana ditegaskan dalam Pesan Pastoral Sidang KWI 2008.
Sejak awal karya misi di wilayah Keuskupan Agung Semarang, para misionaris perintis telah menyadari betul pentingnya pendidikan untuk mendampingi anak-anak, agar memiliki akal budi yang cerdas, hati penuh kasih dan jiwa merdeka serta tangan-tangan yang trampil bekerja. Kesadaran tersebut tetap dipelihara, dipertajam dan dikembangkan sampai sekarang ini. Keuskupan Agung Semarang bersama dengan Yayasan Pendidikan Katolik milik Tarekat Imam, Bruder, Suster, Awam menyelenggarakan sekolah-sekolah Katolik pada jenjang Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Perguruan Tinggi. Sekolah-sekolah tersebut didirikan, diselenggarakan dan dikembangkan di atas dasar prinsip-prinsip pendidikan Katolik.
Keprihatinan
Apa partisipasi Gereja dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, kalau sekarang ini kita melihat realitas kehidupan bangsa yang sungguh memprihatinkan? Pada zaman kita begitu hebat ancaman yang dapat merusak anak-anak kita, bahkan sejak mereka berusia dini. Pengaruh jahat masuk dalam sanubarinya melalui lingkungan sekitarnya. Bagaimana mungkin orangtua dapat menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak, kalau tidak ada cukup waktu untuk memperhatikan anak-anak? Kekerasan dalam keluarga bisa menjadi benih terjadinya kekerasan yang merajalela dalam masyarakat dewasa ini.
Keadaan itu diperparah dengan media komunikasi modern yang begitu berpengaruh bagi pembentukan kepribadian anak. Dunia menawarkan persaingan, kecepatan, kekerasan dan kebencian yang disiarkan melalui corong-corong media komunikasi yang tak terbendung. Sementara itu para pemilik modal dalam bidang komunikasi sibuk berlomba-lomba untuk mengeruk keuntungan bagi mereka sendiri.
Ancaman itu menjadi semakin nyata. Dewasa ini kejujuran tidak mudah ditanamkan dalam hati anak apalagi ketika bersekolah hanya dimengerti untuk mengejar nilai akademis. Kita harus waspada, ketidakjujuran adalah benih korupsi dan kehobongan publik dalam kehidupan bermasyarakat. Ada pula upaya terencana untuk merusak anak-anak dengan narkoba.
Dalam realitas memprihatinkan itu Sekolah-sekolah Katolik harus menampakkan identitas dan perannya untuk mengembangkan semangat saling mengasihi. Keluarga telah menanamkan cinta kasih dalam hidup sehari-hari, Sekolah Katolik meneruskan dalam kerangka pendidikan karakter bagi peserta didik yang diasah bersama dengan teman-teman di sekolah, maupun dalam pergaulan hidup sehari-hari di rumah dan di tengah masyarakat. Sekolah-sekolah Katolik diharapkan mampu menerapkan pendidikan nilai yang membuat peserta didik mengalami pembelajaran yang Eksploratif, Kreatif, Integral dan Komunikatif.
Sekolah Kasih
Perintah baru yang disampaikan kepada kita oleh Sang Guru Sejati, Tuhan Yesus, meneguhkan kita untuk mewujudkan “Sekolah Kasih” di sekolah-sekolah Katolik. Kasih adalah bahasa universal untuk membangun persaudaraan sejati, persaudaraan yang dibangun di atas dasar kemanusiaan, yang terbuka pada panggilan Allah, agar setiap orang menjadi anak-anak Allah. Persaudaraan itu melewati batas-batas suku, agama, ras dan golongan. Sungguh indah bila persaudaraan sejati tersebut terwujud di sekolah-sekolah kita. Bila persaudaraan atas dasar kasih itu terjadi, masih sangat mungkin pada zaman kita sekarang ini “Ia membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman” (bdk. Kis. 14: 27). Sekolah Katolik menjadi perwujudan semangat Injil untuk pewartaan iman dan nilai-nilai Kekatolikan.
Tuhan Yesus Kristus telah menjadi teladan yang unggul dalam mengasihi kita dengan memberikan nyawa-Nya untuk keselamatan kita. Tuhan telah membentuk hati kita agar memiliki kehendak kuat untuk mewujudkan cita-cita kehidupan. Tuhan telah pula memberi daya kekuatan yang memberdayakan kita untuk menjadi manusia dewasa. Tuhan adalah Guru, Pengajar, Pendidik serta Pamong yang baik bagi kita para murid-Nya, agar kita mampu saling mengasihi. Diperlukan sinergi antara keluarga, komunitas, lingkungan, Gereja dan sekolah untuk mewujudkan Sekolah Kasih di lingkungan masing-masing.
Inspirasi dari Ki Hajar Dewantara dapat menjadi pintu masuk bagi para pendidik, orangtua dan keluarga mengembangkan sekolah kasih dengan bersedia “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani”. Para pelaku pendidikan di sekolah-sekolah Katolik hendaklah selalu mengusahakan terwujudnya semangat Sabda “Biarkan anak-anak datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka ....” (Mk. 10:14). Para Pendidik bertugas mengantar anak-anak datang kepada Sang Guru Sejati, Yesus Kristus.
Dengan membangun sekolah Katolik menjadi sekolah bagi para murid untuk saling mengasihi, kita berpartisipasi untuk menggarap realitas kehidupan bangsa yang sungguh memprihatinkan terutama melalui pendidikan. Bila kita sekarang ini menabur benih kasih dalam hati anak-anak kita, kita akan menuai damai. Akan tetapi bila kita sekarang ini menebar angin kebencian, kita akan menuai badai, yang memporak porandakan persaudaraan.


Ucapan terimakasih dan penghargaan
Saudari-saudaraku terkasih,
Kita semua, dalam tugas kita masing-masing, mengemban tanggungjawab untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan dengan menanamkan nilai baik, benar dan indah dalam keluarga, komunitas, dan sekolah-sekolah yang dipercayakan kepada kita. Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan:
· kepada para orangtua yang menyadari dan melakukan peran sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak, terutama dengan teladan nyata dan meluangkan waktu untuk mendampingi kehidupan harian anak-anak;
· kepada para guru, pengajar, dosen yang dengan tekun dan setia secara kreatif selalu berusaha untuk meneruskan nilai-nilai kehidupan pada para perserta didik;
· kepada para pengurus Yayasan dan Lembaga Pendidikan Katolik yang tergabung dalam MPK (Majelis Pendidikan Katolik) dan BKS (Badan Kerjasama Sekolah-Sekolah), yang dengan gigih mendampingi sekolah-sekolah dalam mengemban perutusan menjadi pewarta kabar gembira kepada orang miskin melalui Sekolah Katolik.
· kepada para karyawan kependidikan yang dengan berbagai macam cara mendukung pendidikan Katolik;
· kepada Tim Peduli Pendidikan (TPP) di empat Kevikepan dan para pemerhati pendidikan yang peduli pada pastoral pendidikan dengan memfasilitasi pembenahan dan perubahan pendidikan Katolik; juga paroki-paroki yang mempunyai komitmen melanjutkan menyelenggarakan sekolah Katolik sebagai media pewartaan dan pencerdasan peserta didik kendati telah ditutup oleh yayasan induknya.
· kepada Anda semua yang bekerja dalam lembaga pemerintahan maupun masyarakat, yang memperlakukan pendidikan Katolik sebagai mitra untuk mencerdaskan kehidupan bangsa;
· kepada Anda yang mengusahakan pendidikan kader melalui latihan-latihan yang sungguh berguna bagi pembentukan kepribadian yang utuh;
· kepada anak-anak, peserta didik pada jenjang Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Perguruan Tinggi yang dengan semangat dan hati terbuka mengolah nilai-nilai yang baik, benar dan indah menjadi sikap hidup membangun persaudaraan sejati. Sebagai Uskup, saya berharap “Anak-anakku, bukalah hatimu bila Tuhan memanggilmu untuk menjadi imam, bruder atau suster yang membaktikan hidup seutuhnya kepada Tuhan”. Ambillah waktumu untuk secara khusus pernah memikirkan jalan panggilan ini. Apabila Tuhan menghendakinya, mengapa tidak? Bagi anak-anak yang sudah menjalani Ujian Nasional, tetaplah semangat dalam membekali diri dengan belajar untuk hidup. Sedangkan bagi anak-anak yang masih akan menjalani Ujian Nasional dan tes kenaikan kelas, ketekunan kalian dalam belajar akan memberikan hasil yang bermanfaat bagi masa depanmu.
· Kepada Tim Kerja Pendampingan Keluarga di paroki-paroki serta Komisi Keluarga Kevikepan dan Keuskupan, yang dengan tekun - setia mencari cara dan peluang agar keluarga-keluarga Katolik menyadari perannya sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Perlu dipersiapkan kader penggerak keluarga di Paroki sampai ke Lingkungan dengan memanfaatkan modul pendampingan yang sudah ada serta mengadakan pelatihan hingga para kader itu trampil berkiprah.
Ajakan dan harapan
Saudari-saudaraku terkasih,
Saya mengajak dan berharap pada seluruh umat, terutama para orang tua, baiklah untuk memilihkan Sekolah Katolik yang mengedepankan pendidikan karakter sebagai tempat pendidikan bagi putra-putri Anda, jangan sampai memilih sekolah karena gengsi atau karena biaya yang tampaknya lebih murah bahkan dengan iming-iming “Sekolah Gratis”. Kita wajib mengusahakan pendidikan yang terbaik bagi putra-putri kita.
Kita berharap, agar upaya kita bersama membangun Sekolah Katolik menjadi Sekolah Kasih menjadi bagian penting dari gerakan atau proses transformasi hati yang membuat setiap orang dipenuhi dengan kasih. Bila hati kita penuh dengan kasih, maka mata kita mampu melihat semua orang di sekitar kita sebagai saudari atau saudara kita. Dengan demikian kita juga mampu “melihat langit yang baru dan bumi yang baru” (Wahyu 21: 1).
“Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara”, demikianlah nasehat Paulus dan Barnabas pada jemaat Gereja Perdana (bdk. Kis. 14: 22). Seturut teladan mereka, mari kita mengubah ancaman menjadi peluang, mari kita mengajak setiap orang masuk Kerajaan Allah melalui pendidikan, mari kita mengembangkan Sekolah Katolik menjadi Sekolah Kasih. Selamat bekerja dan selamat berjuang.!!
Salam, doa dan Berkah Dalem,
Semarang, 21 April 2013
Pada Hari Minggu Panggilan
+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang